27.5.13
0 comments

KONSEP ILMU MENURUT IBNU KHALDUN


BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar belakang
Pemikiran Ibnu Khaldun tentang sosiologi, filsafat sejarah dan polotik menjadi bahan kajian para pemikir dan cendikiawan muslim di Timur dan barat. Pemikiran Ibnu Khaldun terus digulirkan dalam berbagai diskursus pemikiran sosial politik kontemporer. Ia dikenal sebagai bapak sosiologi dan sejarawan yang menawarkan gagasan renovasi terhadap cakupan sejarah sekaligus sebagai seorang politikus muslim yang banyak memberikan inspirasi bagi terciptanya iklim kehidupan politik yang bersih.
Kecemerlangan Ibn Khaldun terutama karena rintisannya terhadap sosiologi dan filsafat sejarah yang bukan saja telah menjadikan dirinya sebagai seorang ilmuwan terkemuka di kalangan kaum muslimin, tetapi dia juga seorang ilmuwan yang sangat dihormati di kalangan ilmuwan-ilmuwan non muslim.
Kajian-kajian tentang khazanah keilmuan Islam bagaimanapun juga tidak bisa mengesampingkan nama Ibn Khaldun sebagai seorang ilmuwan yang hidup pada abad pertengahan, yang nyaris selama hidup kedewasaannya diabdikan untu kegiatan-kegiatan politik praktis kecuali hanya bagian kecil saja usianya yang dilewatkan untuk menulis karya ilmiah. Namun demikian, apa yang telah dihasilkannya benar-benar telah memberikan warisan yang sangat berharga bagi kajian-kajian keilmuan sesudahnya.



BAB II
PEMBAHASAN

A.     DEFINISI/ARTIKULASI
Dalam perjalanan sejarahnya yang panjang, ummat manusia telah mengenal berbagai ilmu yang berkembang yang dihasilkan dari waktu ke waktu sehingga terdapat banyak sekali macam ilmu yang dikenal dalam masyarakat. Manusia selalu berpikir, dan tidak pernah terlepas dari tidak pernah berpikir sama sekali . bahkan getaran pemikiran lebih cepat dibanding kedipan mata. Lewat kegiatan berpikir inilah akan timbul ilmu pengetahuan.[1] Dan hal ini pun tidak luput dari perhatian Ibn Khaldun  sebab bagi Ibn Khaldun, masalah ilmu pengetahuan dan pengajaran merupakan salah satu gejala sosial yang khas insani. Perkembangan ilmu pengetahuan yang berbagai macam itu mendorong cendekiawan muslim untuk mengkalsifikasikannya guna memelihara proporsi dan hirarki ilmu itu, dengan cara begini maka jangkauan dan posisi setiap ilmu di dalam kerangka total ilmu selalu bisa dilihat. Menurut Seyyed Hussain Nasr, bahwa:

“Klasifikasi Islam atas sains didasarkan pada hirarki, yang selama berabad-abad telah membentuk matriks dan latar belakang sistem pendidikan muslim. Kesatuan sains selalu merupakan intuisi utama dan sentral, yang menjadi tolak ukur bagi studi beragama sains ini”.

Dengan intuisi tentang kesatuan berbagai disiplin ini, maka sains dipandang sebagai ibarat cabang-cabang dari sebatang pohon yang tumbuh dan mengeuarkan daun dan buah sesuai sifat pohon itu sendiri, sebuah cabang tentunya harus tumbuh sesuai dengan batas tertentu dengan tidak mengkesampingkan kesimbangan pohon itu, demikian juga dengan suatu disipilin ilmu tidak selayaknya dipelajari melampaui batas tertentu yang melebihi kewajaran ilmu itu sendiri. Cendikiawan muslim abad pertengahan menganggap bahwa menuntut suatu cabang ilmu melampaui batas sebagai hal yang tidak berguna, malah dapat dikakatan sebagai suatu tindakan yang melanggar aturan, seperti halnya dengan sebuah cabang pohon yang tumbuh terus tidak terbatas tentu akan merusak keharmonisan pohon itu sebagai satu keseluruhan. Ibn Khaldun, salah seorang cendekiawan muslim abad pertengahan yang berusaha membuat pembidangan setiap ilmu pengetahuan yang berkembang. Pembidangan atau klasifikasi ilmu yang dibuat Ibn Khaldun, ialah: Kelompok ilmu-ilmu yang sifatnya alamiyah bagi manusia, sedangkan yang lain adalah kelompok ilmu-ilmu yang bersifat tradisional (naqli). Yang pertama ialah ilmu-ilmu uang bisa ditemukan sendiri oleh manusia dengan kemampuan berpikirnya (aqli), sedangkan yang kedua berbeda dengan yang pertama karena tidak diperoleh dari kemampuan berpikir manusia, tetapi diperoleh dari orang yang merumuskannya.[2]

B.     SEJARAH PERKEMBANGAN
Ibn Khaldun dengan nama panjang Waliuddin Abdurrahman bin Muhammad bin Abi Bakar Muhammad bin al-Hasan secara luas dikenal sebagai pemikir, pelopor, sekaligus bapak sosiologi dan sejrah sains. Dia lahir sekitar tahun 1 Ramadhan 1723 H bertepatan dengan tanggal 27 Mei 1332 M di Tunisia. Dengan nama asli Abdullah al-Rahman Ibnu Muhammad. Dia berasal dari keluarga bangsawan, namun bukan bangsa Tunisia asli. Keluarga Ibn Khaldun adalah Imigran dari Seville (wilayah spanyol yang berpenduduk Islam) yang kemudian hijrah ke Tunisia. Ibn Khaldun banyak belajar di Tunisia dan Maroko. Ketika masih kanak-kanak dia belajar membaca al-Quran, tajwid-tajwidnya dan mengahafalkannya di luar kepala serta mempelajari madzhab-madzhab bacaan al-Quran dan tafsirnya. Abdurrahman Ibn Khaldun juga mempelajari ilmu-ilmu syariat seprti ilmu hadis, tauhid dan fikih madzhab Maliki di samping juga mempelajari ilmu-ilmu bahasa, seperti nahwu, sharaf, balaghah dan kesusastraan. Kemudian dia juga mempelajari ilmu logika, filsafat dan ilmu fisika serta metematika. Dalam pelajaran-pelajarannya Ibn Khaldun membuat kagum guru-gurunya sehingga dia memperoleh pujian dan pengharggan dari mereka karena kecerdasan dan kecemerlangannya. Inilah yang menjadikannya dalam usia belasan tahun sudah bekerja pada Sultan Barquq seorang kaisar Mesir. Dan meninggal di Kairo pada 808 H/1406 M, setelah lima tahun sebelumnya bertemu dengan Timur Lenk (Tamerlane) di luar tembok Kota Damaskus.[3]
 C.      HUKUM MEMPELAJARI DAN ATAU MENGAJARKANYA
Jiwa manusia hanya dapat tumbuh dan berkembang dengan penegtahuan dan insting-insting yang dimilikinya. Dengan potensi ini, maka insting dapat berkembangh dan menambah kecerdasan karena pengaruh-pengaruh ilmiyah mengendap dalam jiwanya. Tidakkah anada melihat realita perbedaan masyarakat yang berperadaban dan masyarakat badui ? . ketika masyarakat yang berperadaban memiliki berbagai keahlian dan nalar-nalarnya yang disertai dengan pengajaranya yang baik, maka orang-orang yang tidak memiliki insting-insting tersebut tentulah akan menganggap bahwa semua itu dicapai  karena kesempurnaan akalnya, dan bahwa jiwa-jiwa masyarakat badui memliki watak dan tabiat yang lebih kecil jika dibandingkan dengan watak dan tabiat masyarakat berperadaban.[4]
Pengajaran Ilmu pengetahuan merupakan keahlian, hal ini dikarenakan bahwa kecerdasan dalam sebuah ilmu pengetahuan, mempelajari, menekuni, dan menguasainya dengan baik dapat dicapai dengan adanya insting untuk mengetahui prinsip-prinsip dan kaidah-kaidahnya, mencermati berbagai macam permasalah, dan mengambil kesimpulan cabang-cabangnya yang berasal dari kaidah-kaidah pokoknya.
Insting ini berbeda dengan pemahaman dan pengetahuan. Sebab kita dapat memahami satu cabang ilmu oengetahuan, dapat kita peroleh dengan hasil yang sama, antara orang yang telah lama menekuni cabang ilmu tersebut dan yang baru memulainya.
   Karena itulah, yang menjadi sandaran dalam pengajaran disetiap cabang ilmu pengetahuan atau keahlian adalah popularitas keahlian para pengajar yang diekspresikan dalam b entuk pengakuan masyarakat di berbagai tempat dan generasi. Selain itu pengajaran ilmu pengetahuan merupakan keahlian yang menciptakan perbedaan penggunaan istilah-istilah didalamnya. [5]
  
D.     AFILIASI/RUMPUN ILMU DAN FAEDAHNYA

a.       Ilmu-ilmu Falsafah dan Hikmah
Aqli adalah ilmu-ilmu hikmah dan filsafat. Ilmu-ilmu ini dapat diapelajari oleh manusia lewat akal dan pemikiranya secara natural.[6]
Ilmu-ilmu yang sifatnya alamiyah bagi manusia atau ilmu-ilmu rasioanal tidak terdapat secara khusus pada suatu kelompok penganut agama tertentu, melainkan terdapat pada seluruh penganut-penganut agama secara keseluruhan dan mereka mempunyai persamaan danpersepsi dan pembahsannya. Ilmu-ilmu itu dinamakan juga ilmu-ilmu falsafah dan hikmah. Selanjutnya Ibn Khaldun membagi ilmu-ilmu rasional atau ilmu-ilmu falsafah dan hikmah yaitu sebagai berikut :
1.    logika (علم المنطق), yaitu ilmu untuk menghindari kesalahan dalam proses penyusunan fakta-fakta yang ingin diketahui, yang berasal dari berbagai fakta tersedia yang telah diketahui. Faedahnya adalah untuk membedakan antara yang salah dari yang benar berkenaan dengan hal-hal yang dikejar oleh para pengkaji segala yang ada beserta sifat-sifat tambahannya agar ia sampai pada pembuktian kebenaran mengenai alam semesta dengan menggunakan akalnya secara maksimal.
2.    Ilmu alam (علم الطبيعي), yaitu ilmu yang mempelajari substansi elemental yang dapat dirasa dengan indera, seperti benda-benda tambang, tumbuh-tumbuhan, binatang-binatang yang diciptakan, benda-benda angkasa, gerakan alami dan jiwa yang merupakan asal dari gerakan dan lain-lainnya.
3.    metafisika (علم الالهيات), yaitu pengkajian yang dilakuakan terhadap perkara-perkara di luar alam, yaitu hal-hal yang sifatnya rohani.
4.    studi tentang berbagai ukuran yang dinamakan matematika (Ta’limi). Bagian ini mencakup empat ilmu pengetahuan, yaituilmu ukur,ilmu hitung, ilmu music, dan astronomi. Tentang ilmu ukur atau geometri, Ibn Khaldun mangatakan bahwa: “Ilmu ukur...berupa pengakajian tentang ukuran-ukuran secara umum, baik yang terpisah-pisah karena ukuran itu bisa dihitung ataupun yang bersambungan, yang terdiri dari satu dimensi, yaitu titik; atau mempunyai dua dimensi, yaitu permukaan; atau tiga dimensi, yaitu ruang. Ukuran-ukuran itu dikaji, demikian pula sifat-sifat tumbuhannya”.
5.    hitung/aritmatika adalah ilmu tentang apa yang terjadi pada angka terpisah, yaitu bilangan dengan memperhatikan ciri-ciri khususnya serta sifat-sifat tambahan yang melekat padanya.
6.    Ilmu music adalah pengetahuan mengenai hubungan suara-suara dan melodi-melodi satu sama lainnya serta pengukurannya dengan angka.
7.      Ilmu astronomi adalah ilmu yang menetapkan bentuk daerah angkasa, posisi dan jumlah planet dan bintang tertentu, dan dengannya memungkinkan mempelajari semuanya ini dari gerakan benda-benda di langit yang kelihatan terdapat di setiap ruang angkasa, gerakan-gerakannya, proses dan resesinya.
Itulah tujuh pokok-pokok ilmu falsafah dalam pembidangan yang dibuat Ibn Khaldun, yaitu logika yang merupakan pengantar baginya, dan setelah itu ialah ilmu-ilmu instruktif: pertama ialah ilmu hitung, kemudian ilmu ukur, kemudian astronomi. Ilmu-ilmu alam dan metafisika. 
b.           Ilmu-ilmu Tradisioanl Syar’iyah (naqli)
Naqli adalah ilmu-ilmu yang diajarkan atau dutransformasikan. Ilmu-ilmu ini disandarkan pada informasi dari orang yang diutus untuk menyampaikanya. Akal tidak menempati tempat dalam ilmu-ilmu ini.[7]
Pada kelompok yang kedua ini berbeda dengan ilmu-ilmu yang ada pada kelompok yang pertama, karena pada pembidangan yang kedua ini terdiri dari ilmu-ilmu yang tidak melibatkan akal manusia dalam memperolehnya, di sini tidak ada tempat bagi akal, kecuali untuk menghubungkan persoalan-perosalan detail dengan prinsip-prinsip dasar. Sumber asal ilmu pengetahuan naqli ini secara keseluruhan adalah ajaran kitab suci al-Quran dan sunnah
Rasulullah saw. Menurut Ibn Khaldun, jenis ilmu-ilmu naqli ini banyak, dan adalah tugas bagi setiap mukallaf untuk mengetahui hukum-hukum Tuhan yang di fardhukan kepadanya.Perincian ilmu-ilmu naqli adalah seabagi berikut:
·         Al-Quran dan tafsirnya serta qiraatnya.
Alquran adalah firman Allah Azzawajal yanhg diturunkan kepada NabiNya yang tertulis diantara lembaran-lembaran Mushaf.[8]
·         Ilmu-ilmu hadis dan mata rantai periwayatnya.
Ilmu hadits sangat banyak dan bervariatif. Ada yang mempelajarinya dari segi nasikh dan Mansukhnya. Mengetahui illmu nasikh dan Mansukh merupakan salah satu ulmu hadits yang terpenting sekaligus tersulit. Termasuk didalam ilmu hadits adalah meniti sanad-sanadnya dan mengetahuio hadits-hadits yang harus diamalkan dan yang memenuhi kriteria-kriteria sanad yang sempurna. Selain itu, cabang ilmu hadits ini juga membahas tentang stratifikasi para perawi., mulai dari sahabat, tabi’in, dan perbedaan-perbedaan mereka dan keistimewaan mereka satu persatu.[9]
·         Ilmu Ushul Fiqih dan ilmu fiqih
Ushul Fiqih merupakan salah satu ilmu syariah yang paling agung dan memiliki peranan paling besar. Ilmu ushul fikih adalah ilmu yang meneliti dalil-dalil syar’i, dimana hukum-hukum dan taklif bersumber dari padanya. Sumber-sumber dalil syar’i adalah kitabulloh kemuadian assunah yang menjelaskan.[10]Sedangkan Fiqih adalah ilmu untuk mengetahui hukum-hukum Allah pada perbuatan Mukallaf seperti wajib, haram, sunnah,makruh dan mubah. Hukum-hukum tersebut bersumber dari kitabulloh dan sunnah RasulNya. Dengan dalil-dalil yang diperlihatkan Alloh untuk di pelajari.[11]
·         Ilmu Faroid
ilmu faroidh adalah pengetahuan pembagian harta warisan dan kebenaran pembagian yang menjadi hak dari suatu harta pusaka denhgan memperhatikan pembagian-pembagian dasar bagi setiap individu atau pengaturan kembali bagian-bagianya yang dikenal dengan munasakhat.[12]
·         Ilmu kalam dan Ilmu Tasawuf.
ilmu kalam adalah ilmu yang menggunakan Hujjah-Hujjah keimanan berdasarkan bukti-bukti logis dan membantah ahli Bid’ah yang menyimpang dari dogma madzhab ulama salaf dan ahlussunah. Poin terpenting di balik keyakinan-keyakinan dan keimanan ini adalah tauhid, atau pengesaan terhadap Allah azzawajal.[13]
Sedangkan ilmu tasawuf adalah bagian dari ilmu syariat yang muncul dikemudian hari dalam agama.[14]



PENUTUPAN
KESIMPULAN
Ilmu menurut Ibnu Khaldun terbagi menjadi dua. Yaitu  ilmu-ilmu uang bisa ditemukan sendiri oleh manusia dengan kemampuan berpikirnya (aqli), sedangkan yang kedua berbeda dengan yang pertama karena tidak diperoleh dari kemampuan berpikir manusia, tetapi diperoleh dari orang yang merumuskannya.
Ibn Khaldun dengan nama panjang Waliuddin Abdurrahman bin Muhammad bin Abi Bakar Muhammad bin al-Hasan secara luas dikenal sebagai pemikir, pelopor, sekaligus bapak sosiologi dan sejrah sains. Ibn Khaldun banyak belajar di Tunisia dan Maroko dan seringkali membuat kagum guru-gurunya.
            Pengajaran Ilmu pengetahuan merupakan keahlian, hal ini dikarenakan bahwa kecerdasan dalam sebuah ilmu pengetahuan, mempelajari, menekuni, dan menguasainya dengan baik dapat dicapai dengan adanya insting untuk mengetahui prinsip-prinsip dan kaidah-kaidahnya, mencermati berbagai macam permasalah, dan mengambil kesimpulan cabang-cabangnya yang berasal dari kaidah-kaidah pokoknya.
AFILIASI/RUMPUN ILMU :
a.       Ilmu-ilmu Falsafah dan Hikmah
b.      Ilmu-ilmu Tradisioanl Syar’iyah (naqli)




DAFTAR PUSTAKA
Ibnu khaldun, Muqaddimah Ibnu Khaldun ; pustaka al Kautsar, Jakarta - 2001
http://ajigoahead.blogspot.com/2013/01/ilmu-dan-klasifikasinya-menurut-ibnu.html





[1]Ibnu khaldun, Muqaddimah Ibnu Khaldun ; pustaka al Kautsar, Jakarta. hal : 792
[2]http://ajigoahead.blogspot.com/2013/01/ilmu-dan-klasifikasinya-menurut-ibnu.html
[3]Ibid 2
[4]Ibid, hal : 800
[5]Ibid, hal : 792
[6]Ibid, hal : 804
[7]Ibid, hal : 804
[8]Ibid, hal : 808
[9]Ibid, hal : 815
[10]Ibid, hal : 836
[11]Ibid, ha; : 823
[12]Ibid, hal : 833
[13]Ibid. Hal : 846
[14]Ibid, hal : 865

0 comments:

Post a Comment

Labels

Recent Comments

 
Toggle Footer
Top