8.4.11
0 comments

SETIAP ANAK ADALAH ANAK GIFTED (BERBAKAT ISTIMEWA).


Assalamuaikum bee lovers,,,

Kemarin sore, kaka-kakaan saya minta tolong di buatin tugas kuliahnya mengenai anak berbakat. Dan akhirnya tugas itu selesai juga. Dari pada saya simpen terus di flashdisck, mending saya postingin aja di blog saya ( www.beefamily.co.cc ). Sapa tau aja bias jadi pahala buad saya, n sapa tau aja bisa berguna untuk beelovers sekalian.
Nih, saya suguhin penjelasanya,,,

SETIAP ANAK ADALAH ANAK GIFTED (BERBAKAT ISTIMEWA).

Adalah benar bahwa setiap anak yang terlahir ke dunia memiliki keunikan dan membawa beragam potensi sebagai anugerah dari Sang Penciptanya. Berbagai keunikan dan potensi inilah yang kemudian membedakannya dengan anak-anak lain. Tak ada satu anakpun yang memiliki kesamaan dalam segala aspeknya dengan anak lainnya. Namun jika dikatakan bahwa setiap anak adalah anak Gifted (anak yang memiliki bakat istimewa) maka hal itu adalah suatu klaim yang jauh dari kebenaran dan realitas sesungguhnya. Gifted atau keberbakatan istimewa adalah suatu istilah yang merujuk pada adanya satu atau beberapa potensi yang dimiliki oleh seorang anak/individu yang sifatnya di luar keumuman (extra ordinary), perkecualian (exceptional), dan di luar norma (beyond the norm) dalam hal kemampuan atau potensi bawaan. 

Batasan tentang istilah keberbakatan istimewa (Giftedness)
Sampai saat ini tidak ada batasan tunggal yang merepresentasikan arti istilah gifted. Halmana karena memang tidaklah mudah untuk memberi batasan atas suatu fenomena yang kompleks seperti giftedness ini. Orang tua, guru, masyarakat, ahli, dan praktisi (khususnya di bidang psikologi dan pendidikan) pun juga memiliki beragam pemahaman atas apa yang dimaksud dengan keberbakatan istimewa (giftedness). Guna mempermudah pemahaman tentang makna istilah keberbakatan istimewa, berikut diuraikan secara singkat sejarah dan sudut pandang para ahli yang secara khusus melakukan studi dan penelitian tentang keberbakatan istimewa.
Asal muasal istilah Gifte.

Di tataran publik istilah gifted pertama kali diperkenalkan oleh Sir Francis Galton (saudara sepupu pencetus teori evolusi Charles Darwin) pada tahun 1869. Gifted dalam pengertian yang diperkenalkan oleh Galton pada masa itu merujuk pada suatu bakat istimewa yang tidak lazim dimiliki oleh manusia biasa yang ditunjukkan oleh seorang individu dewasa. Titik tekan konsepsi keberbakatan istimewa menurut Galton ada pada berbagai bidang. Ia memberi contoh seperti ahli kimia Madame Curie sebagai gifted chemist (ahli kimia dengan bakat luar biasa atau istimewa). Menurut Galton keberbakatan istimewa ini adalah sesuatu yang sifatnya diwariskan. Artinya keberbakatan istimewa adalah sesuatu potensi yang menurun (genetically herediter). Anak-anak yang menunjukkan suatu bentuk bakat yang istimewa ini kemudian lazim disebut sebagai gifted children.

Dalam perkembangannya, Lewis B.Terman, seorang ahli psikologi dan psikometri dari Universitas Standford memperluas pandangan Galton tentang keberbakatan istimewa menjadi termasuk juga di dalamnya individu-individu dengan kapasitas kognitif atau intelektual yang sangat tinggi. Sebagai perumus dan originator tes intelegensi Stanford Binet, Lewis Terman benar-benar terobsesi dengan fenomena anak-anak gifted ini. Di awal tahun 1900-an ia bersama koleganya di universitas Stanford mulai melakukan penelitian panjang tentang anak-anak gifted. Dari hasil studinya ini Terman kemudian merumuskan konsepsinya tentang arti keberbakatan istimewa atau giftedness. Ia memberikan batasan bahwa anak-anak Gifted adalah anak-anak yang memiliki kapasitas kognitif sebagaimana terukur dengan tes intelegensi Stanford Binet, berada pada kisaran skor IQ di atas 140. Berdasarkan penelitiannya Terman juga meyakini bahwa meski anak-anak gifted ini di kemudian hari pada umumnya sukses sebagai orang-orang dewasa di berbagai bidang profesi, tetapi kesuksesan mereka tersebut tak semata disebabkan oleh karena kapasitas kognitif mereka yang sangat tinggi tetapi juga disumbangkan oleh faktor-faktor non kognitif yang mereka miliki seperti semangat, motivasi, komitmen, ketekunan, dan keberanian mengambil risiko.

Pada tahun 1926 Leta Hollingworth, seorang ahli psikologi pendidikan Amerika Serikat, merilis bukunya yang dikemudian hari menjadi salah satu buku legendaris dalam khazanah literatur tentang keberbakatan istimewa yang bertajuk ”Gifted Children, Their Nature and Nurture” . 

Dalam buku ini ia mengemukakan pendapatnya bahwa meski potensi keberbakatan istimewa adalah sesuatu yang sifatnya menurun tetapi tanpa adanya pola pengasuhan dan ketersediaan lingkungan yang mendukung maka potensi keberbakatan istimewa tersebut hanya akan tinggal potensi, tak akan pernah teraktualisasi. Oleh karena itu pada periode 1930-an ia tampil menjadi penganjur utama tentang perlunya orang tua memberikan pola asuh dan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi anak-anak dengan bakat istimewa untuk dapat mengaktualisasikan potensinya. Karena masifnya kampanye yang dilakukan oleh Leta Hollingworth inilah maka sejak saat itu istilah gifted selalu dipergunakan orang untuk merujuk pada potensi yang sangat tinggi yang dimiliki oleh seorang anak atau individu. 

Pada dekade 1970-an, Jozeph Renzulli dari Universitas Connecticut mengajukan konsepsinya tentang keberbakatan isitmewa dalam teorinya yang terkenal kemudian sebagai The Three Rings of Giftedness. Pokok konsepsi dari teori Renzulli ini adalah keberbakatan istimewa baru akan dapat muncul dan teraktualisasikan jika terdapat 3 traits (sifat) utama yang terdapat atau muncul pada diri seorang individu. Ke-3 traits itersebut adalah :

1. Potensi kognitif atau kapasitas intelektual yang berada pada kisaran di atas rata-rata (High  Potential Ability).
2. Dorongan atau motivasi yang kuat untuk meraih tujuan (task commitment).
3. Kreatifitas (creativity).

Menurut Renzulli selama ketiga traits tersebut tidak dapat ditunjukkan (dimiliki) oleh seorang anak atau individu maka maka belumlah dapat disebut sebagai anak atau individu dengan bakat istimewa (gifted child). Renzulli memberi contoh bahwa Albert Einstein adalah prototipe yang sangat tepat bagi individu dengan bakat istimewa (gifted). Selain memiliki kapasitas intelektual yang sangat tinggi, Einstein juga dikenal sebagai individu yang sangat memiliki motivasi tinggi untuk meraih apa yang dia inginkan. Selain itu sifat kreatifnya juga sangat kental tatkala ia merumuskan teori relatifitasnya yang sangat terkenal (dimana pada saat itu tak banyak orang yang menyetujuinya). Di sini nampak jelas Einstein sebagai seorang jenius yang punya imajinasi dan kreatifitas diluar keumuman.

Ahli psikologi perkembangan dan psikometri kontemporer dari Amerika Serikat Linda K. Silverman juga mengajukan konsepsi tentang keberbakatan istimewa. Konsepsi yang diajukannya agak berbeda dengan ahli-ahli sebelumnya. Dalam konsepsinya yang terkenal dengan teori Asynchronous Development (perkembangan yang tidak serasi), ia menyebutkan bahwa dimensi terpenting dari adanya keberbakatan istimewa adalah adanya fenomena tumbuh kembang yang tidak serasi dalam diri seorang anak atau individu. Perbedaan utama konsepsi yang diajukan oleh Linda Silverman dengan ahli-ahli sebelumnya adalah jika ahli-ahli sebelumnya hanya melihat keberbakatan istimewa dari sudut pandang bakat atau potensi yang sangat tinggi (istimewa) yang ditunjukkan atau dimiliki oleh seorang anak atau individu, maka Linda Silverman menambahkan satu aspek lain yang sangat penting yaitu aspek emosi. Jadi selain dilihat dari sudut pandang potensi yang sangat tinggi (istimewa) yang dimiliki oleh seorang anak atau individu maka pola perkembangan anak atau individu dari aspek intelegensi, emosi, dan fisik juga sangat perlu mendapat perhatian khusus. Berdasarkan penelitian yang dilakukannya ia menyebutkan bahwa ternyata pola perkembangan anak atau individu yang memiliki bakat istimewa (gifted) jauh berbeda dengan pola perkembangan anak-anak normal, baik secara kuantitatif maupun kualitatif.

Lebih jauh konsepsi Linda Silverman ini kemudian dikembangkan oleh sekelompok orang tua, peneliti, ahli psikologi, dan pendidik yang tergabung dalam kelompok yang menamakan dirinya sebagai the Columbus Group. Menurut mereka batasan atau definisi keberbakatan istimewa adalah :
“ Giftedness atau keberbakatan istimewa adalah suatu pola perkembangan yang tidak sinkron (tidak serasi; asynchronous development ) pada individu-individu tertentu, dimana didalamnya terkombinasi suatu tingkat kemampuan kognitif yang sangat maju yang disertai dengan intensitas emosi (kedalaman perasaan; emotional intensity) yang sangat kuat, yang pada akhirnya menciptakan suatu pola pengalaman dan kesadaran dalam diri individu-individu tersebut yang secara kualitatif sangat berbeda dengan anak-anak lain yang seusianya. Ketidakserasian ini akan semakin meningkat dengan semakin tingginya kapasitas intelektual yang mereka miliki. Keunikan seperti inilah yang pada akhirnya mempersyaratkan adanya suatu pola pengasuhan, pengajaran, dan pembimbingan yang khusus agar proses tumbuh kembang mereka dapat berjalan dengan optimal ” (The Columbus Group, 1991)

Selain batasan sebagaimana diuraikan di atas juga terdapat batasan yang merujuk pada tampilan (performance) akademik yang ditunjukkan oleh seorang anak selama di sekolah. Menurut definisi ini anak-anak berbakat istimewa (gifted) adalah anak-anak yang berada pada kisaran 5%-10% teratas dilihat dari prestasi akademik yang mereka tunjukkan di sekolah. Mengacu pada definisi ini maka anak-anak yang tergolong berbakat istimewa perlu mendapatkan materi belajar dan model pembelajaran yang lebih menantang yang berbeda dengan teman-temannya. Definisi ini meski mudah dalam aplikasinya (khususnya dari aspek identifikasi) tetapi sangat kurang mendapatkan dukungan dari para ahli psikologi, khususnya karena terlalu menekankan pada aspek prestasi namun kurang mempertimbangkan aspek kepribadian dan tumbuh kembang dari anak-anak berbakat istimewa. Selain itu dalam aplikasinya standar kriteria 5%-10% teratas dalam ranah prestasi akademis juga masih diperdebatkan, khususnya dalam hal instrumen apa yang dipergunakan untuk mengukurnya.

Definisi paling mutakhir yang kini menjadi arus utama dan banyak disepakati oleh para ahli, baik dalam ranah psikologi maupun pendidikan adalah teori Gagne yang diperbaharui pada tahun 2003. Teori Gagne ini pada dasarnya menitikberatkan konsepsi keberbakatan istimewa sebagai sesuatu yang merupakan hasil interaksi antara faktor keturunan (genetic) dan faktor tumbuh kembang (developmental) yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Di samping itu salah satu pokok konsepsi keberbakatan istimewa dalam teori Gagne ini adalah keberbakatan istimewa pada prinsipnya bersifat multi domain. Konsepsi inilah yang membedakan secara eksplisit antara teori Gagne dengan teori lain yang cenderung bertumpu pada konsepsi keberbakatan istimewa sebagai semata keberbakatan dalam domain intelektual. Di samping itu teori Gagne juga mendapatkan basis ilmiah yang kuat karena sejalan dengan teori intelegensi paling mutakhir yaitu teori Cattel-Horn-Carrol (2003) yang menyebutkan bahwa kecerdasan sebagai konstelasi kemampuan manusia yang bersifat hirarkis dan multi facet.
Francoys Gagné adalah ahli psikologi pendidikan dari universitas Quebec di Kanada. 
Menurutnya istilah gifted (potensi istimewa) dan talenta (bakat yang telah berkembang secara sistematis) adalah dua hal yang berbeda. Dalam konsepsi Gagne, istilah Gifted lebih merujuk pada kepemilikan potensi istimewa di dalam satu atau lebih domain kemampuan (natural abilities).
Kemampuan atau potensi alami (Natural Abilities)
Gagné mengajukan 4 domain keberbakatan istimewa yang menurutnya sangat bersifat gentik, yaitu :
• Domain kemampuan intelektual seperti : kemampuan penalaran, mengingat, pengamatan, penilaian situasi, dan meta kognisi
• Domain kreatifitas seperti : imajinasi, orisinalitas, dan kelancaran ide.
• Domain sosio afektif, seperti : perceptiveness, kemampuan berkomunikasi (empati dan diplomasi), dan kemampuan mempengaruhi.
• Domain sensori motor, seperti : kepekaan panca indra, kekuatan fisik, dan koordinasi alat gerak tubuh.
Sedangkan Talenta atau bakat yang telah berkembang secara sistematis adalah bentuk tampilan langsung dari potensi istimewa tersebut yang merupakan hasil dari proses belajar, baik yang bersifat formal maupun informal.
Talenta (Talents)
Talenta dalam konsepsi Gagne adalah bidang-bidang prestasi dimana potensi atau kemampuan alami (natural abilities) akan dapat mewujud. Bidang-bidang prestasi ini antara lain adalah (namun tidak terbatas pada daftar di bawah ini) :
• Bidang akademik,
• Bidang seni,
• Bidang usaha (bisnis),
• Bidang hoby atau kesenangan,
• Bidang hubungan antar manusia,
• Bidang olahraga,
• Bidang teknologi.
Untuk dapat berkembang atau muncul kedalam bentuk talenta maka potensi istimewa yang bersifat alami ini perlu mendapatkan apa yang oleh Gagne disebut sebagai faktor pemercepat (catalyst factor). Selanjutnya Gane merumuskan bahwa faktor pemercepat teresebut terbagi menjadi 3 :
1. Faktor pemercepat dari dalam diri (intra personal catalyst), yang mencakup beberapa karakteristik yang dimiliki oleh individu berbakat istimewa yang dapat berpengaruh secara positif maupun negatif terhadap proses belajar anak berbakat istimewa tersebut. Karakteristik ini antara lain :
• Kondisi fisik seperti faktor kesehatan,
• Motivasi atau dorongan untuk berprestasi,
• Kemampuan mengelola emosi,
• Sifat-sifat kepribadian (temperamen, kepercayaan diri, kemampuan beradaptasi dll).

2. Faktor pemercepat dari luar diri (interpersonal atau environmental catalyst). Gagné menyebut ada 4 faktor pemercepat utama yang sangat berpengaruh terhadap proses pengembangan bakat istimewa menjadi talenta yang telah berkembang :
• Milieu (budaya lingkungan tempat tinggal, keluarga).
• Individu atau orang lain.
• Program dan fasilitas .
• Kejadian-kejadian yang dialami selama kehidupan.

(saya lupa ngambil postingan ini dari mana, jadi ga saya tulisin penulisnya)

 

0 comments:

Post a Comment

Labels

Recent Comments

 
Toggle Footer
Top